Membaca SOE HOK-GIE, sekali lagi

Judul buku:

SOE HOK-GIE, sekali lagi.
Buku pesta dan cinta di alam bangsanya.

Saat baru membaca separuh, saya mengkreditkan empat setengah bintang untuk buku ini. Empat setengah bintang itu untuk dua tulisan ini:

Tulisan pertama: Antar Gie dan Idhan Ke Atas (AGKA) oleh Rudy Badil.
Dalam bagian ini Rudy Badil menuliskan pengalaman ‘seru’ selama menjadi Tim Semeru 69 yang menjadi ‘teman-teman’ terakhir yang melihat Gie hidup.

Rudy Badil sendiri adalah anggota tim yang ‘kerjaannya disuruh masak melulu’ oleh Gie. Setiap pagi ia mendengarkan aba-aba Gie untuk memasak.

Namun pagi pertama setelah Gie meninggal ia merindukan ‘aba-aba memasak’ yang selalu di lontarkan Gie. Walupun di lain sisi ia juga ‘lega’ karena akhirnya bisa merokok tanpa khawatir teguran Gie.

Membaca tulisan ini seperti menonton ‘Black Comedy’. Segar dan tragis. Juga kaya karena bersandarkan pada sebuah kisah nyata yang ‘penting’. Yang mengakhiri ‘kehidupan’ seorang pemuda kritis seperti Gie.

Tulisan kedua adalah: Surat Terbuka Ker Buat Hok- Gie. Oleh Kartini Sjahrir.

Sebagaimana formatnya surat, tulisannya sangat impresif. Berisi kisah ‘drama percintaan ala pemuda intelektual’… ^_^
Ker ini dulu adalah salah satu cewek yang dekat dengan Gie. Anak baru masuk yang gemar pakai rok mini ini naksir berat sama Gie. Ia rela ‘hanya’ menjadi ‘permen karet’, tempat Gie curhat tentang Inge, cewek yang ditaksir Gie habis-habisan tapi menolak cintanya.

Pada bagian ini kita juga bisa melihat Gie dari sisi yang lebih manusiawi, misalnya keheranan Ker pada Gie yang suka ngomong nyerempet-nyerempet bawah puser.

Sebelum Gie pergi ke semeru dan menutup usianya di gunung itu 16 desember ’69, satu hari sebelum ulang tahunnya ke 27), ia bilang sayang pada Ker. Sayangnya musibah semeru itu mengandaskan harapan Ker untuk menjadi gadisnya Gie.

Saat ini ibu Ker ini menjadi ketua sebuah partai politik, yang menurutnya juga berkat ‘pengaruh Gie’ di masa mudanya.

Ada seabrek tulisan lagi diantaranya dari Nicholas Saputra tentang pengalamannya ‘mengenal gie’ lewat perannya di filem. Tulisan dari  Mira Lesmana, tentang awal ketertarikannya mengangkat Soe Hok Gie ke dalam filem, juga Ben Anderson kawan dekat Gie (tulisannya dalam bahasa Inggris) dan manusia lain yang terkait baik langsung ataupun tidak langsung dengan Soe Hok Gie.

Bagian tengah buku ini memang ‘terlalu banyak’ berkisah tentang pendapat orang lain tentang Gie, sehingga saya merasa ‘agak jenuh’ karena keterangan-keterangan yang mereka sampaikan menjadi tumpang tindih.

Padahal saya adalah tipe pembaca yang lebih senang dengan tulisan yang menuruti kaidah “Sampaikan sekali! Dengan Tepat!”

Untungnya bagian akhir buku ini di tutup oleh kumpulan tulisan Soe Hok-Gie, yang pernah dimuat di koran-koran di tahun 1969, yang anehnya masih sangat relevan sekali dengan kehidupan sosial masyarakat, serta carut-marut hukum dan perpolitikan di indonesia saat ini.

Intinya adalah, buku ini PERLU dibaca!
Komplit deh Lima bintang!

2 thoughts on “Membaca SOE HOK-GIE, sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s