Arogansi menentukan masa depan

“Entah kenapa arsitek itu ‘begitu’, padahal kan biasa aja?” Ucap teman saya yang berprofesi sebagai desainer interior, saat kami sedang berdiskusi minggu lalu.

Kata ‘begitu’ merujuk pada: arogan, sombong (segala sifat tinggi hati itulah). Tidak semua arsitek memang. Hanya praktisi yang karyanya keren dan sikapnya arogan saja hehe.. (*cari aman)

Tapi wajarlah, orang yang karyanya keren kan biasanya arogan? Contoh di seni musik misalnya (kata orang) A***d Dani yang mantan suaminya M**a. Halah!

Arsitek kan juga pekerja kreatif. Setengah seniman.

Seniman beneran itu harus punya prinsip. Tidak menye-menye. Sikap (tampak luar) yang arogan bisa jadi benteng aman. Karena kalau terlihat ramah, bersahabat, dan lemah, arsitek akan gampang dilibas. Gampang dirayu kerja bareng koruptor. Membabat hutan, Menimbun sungai… (Maaf ini analisa saya lho, yang gak setuju silakan nulis di blog sendiri.. ^_^ ) Walaupun orang arogan belum tentu nggak ‘kotor’ juga.

Satu hal lagi yang membuat arsitek (berpotensi) arogan karena ‘area desain’ arsitek itu ‘bumi’. Guys planet seperti bumi ini kan hanya satu! (Sejauh ini sih).

Berbeda dengan pelukis yang ‘area seninya’ adalah kanvas.

Kalaupun ada pelukis mural kota, karya mereka hanya 2d. Berbeda juga dengan karya seni tiga 3d seperti instalasi/ patung yang kadang hanya bisa dipandangi, diraba. Karya arsitektur bisa di ‘alami’, di jadikan tempat hidup, tempat kita bisa merasa aman, sekaligus ketakutan.

Arsitek (berpotensi) arogan karena mereka ‘mendesain’ peradaban. Mereka salah satu ujung tombak peradaban.

Terlepas karya mereka dianggap jelek atau bagus oleh para kritikus arsitektur. Karya-karya mereka adalah penentu rupa bumi. Dalam arti positif sekaligus negatif.

Apa yang ada di kepala orang ketika menyebut kota Sidney? Bisa jadi Sidney Opera House a.k.a produk arsitektur.

Atau apa yang diingat orang ketika mendengar nama Menara Eiffel? Tentu kota Paris (Walaupun tiruannya banyak. Saya perah lihat satu di Gorontalo).

Dan walaupun Peter Eisenman (arsitek terkemuka) menyebut Dubai sebagai “arena sirkus arsitektur”. Tapi bagi kebanyakan orang, Dubai adalah tampat keren, sebuah gambaran bentuk peradaban bumi (mungkin) lima puluh tahun mendatang. (Sidney Opera House dan Menara Eiffel di awal kemunculannya juga pernah menuai kritik. Tapi orang biasa yang bukan kritikus arsitektur menganggap dua bangunan itu keren.)

Di balik segala ‘tampak luar’ yang hebat-hebat itu, tahukan kita bahwa ‘bangunan’ (karya seni para arsitek ini) adalah penguras energi terbesar di dunia?

Yup! Bangunan menguras energi sejak saat konstruksi hingga pemakaiannya.

(Studi konsultan energi Inggris, Max Fordam, mengungkap bahwa sektor bangunan mengonsumsi 50 persen total konsumsi minyak nasional negara maju, sementara sektor transportasi ‘hanya’ mengonsumsi 25 persen, dan 25 persen sisanya dikonsumsi oleh industri.)

Dulu saat kuliah, kami mahasiswa arsitektur memang boleh mendesain dengan ‘lebay’ dalam artian ‘tidak kontesktual(membumi) yang penting keren’ .Tapi di sisi lain kita juga diajarkan untuk ‘perduli’ pada lingkungan, pada masyarakat, dimana bangunan tersebut akan dibangun.

Pada akhirnya ‘lebay’, atau kontekstual memang adalah pilihan.

Semoga saja (kalau ada) arogansi arsitek, itu tidak untuk mempertahankan ke‘lebay’an dalam mendesain. Tapi demi melindungi prinsip dan idealisme yang berpihak pada konservasi kehidupan di bumi.

Amiin!

2 thoughts on “Arogansi menentukan masa depan

  1. Menarik sekali mbak., Saya teringat perkataan dosen saya; bahwa pensil arsitek dapat membangun peradaban. Dan saya setuju semuanya kembali ke arsitek lagi sebagai pilihan bagi dirinya yang seharusnya menjalankan “tanggung jawab”nya sebagai arsitek.

    Eh, tetapi bukannya tidak mungkin dong;
    ‘lebay’ dan kontekstual menjadi pilihan yang keduanya dapat dijalankan secara seimbang? Rasanya keduanya tidak berlawanan satu sama lain; kecuali arsitek yang menjalankannya mengabaikan satu sisi di saat sisi yang lain juga perlu pertimbangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s