the road

Tidak banyak buku yang bisa membuatku terhenyak begitu lama saat menutup halaman terakhir. Dan buku ini salah satu yang mampu membuatku seperti itu.

Memang sedikit butuh perjuangan untuk menyesuaikan dengan gayapenulisan si Cormac McCarthy yang tidak seperti buku kebanyakan. Salah satunya adalah kalimat dialog yang tidak menggunakan tanda kutip. Dan deskripsi yang sangat panjang.

Buku ini juga tidak memberikan banyak keterangan dari sang ‘pencerita’. Mc Carthy membiarkan seluruh deskripsi setting, dan dialog dua karakter utama bertutur sendiri. Mungkin karena minimnya campur tangan informasi subjektif dari si pencerita itu yang membuatku agak lamban membaca buku ini.

Secara keseluruhan buku ini berkisah tentang seorang ayah dan anak yang mengembara demi mempertahankan hidup setelah sebuah bencana besar di bumi. Kehidupan mati. Warna laut tak lagi biru, karena langit bertutup awan kelabu sepanjang hari. Bumi abu-abu.

Bencana itu hanya meninggalkan beberapa orang hidup. Dari segelintir itu ada yang memilih bertahan, dan sebagian lebih memilih mati (bunuh diri).

Yang memilih bertahan hidup (dalam bahasa si anak kecil) terdiri dari dua kelompok. Orang-orang baik dan orang-orang jahat.

Orang-orang jahat adalah orang yang memangsa segala kehidupan yang tersisa. Mereka sekelompok kanibal, yang memakan siapapun yang mereka temukan di jalan.

Sedangkan orang-orang baik adalah mereka yang bertahan hidup dengan memelihara ‘api’. Mereka bahkan tidak menggorok anjing terakhir yang mereka temukan di bumi. Mereka hanya hidup dengan ‘harapan’ (api itu). Dengan rasa kasih terhadap kehidupan.

Sang ayah dan anak berbekal sepucuk pistol, mengembara berdua mencari makanan untuk mempertahankan hidup. Mereka terkadang menemukan makanan kaleng di puing-puing gosong. Bahkan gandum-gandum berselimut debu, di gudang-gudang yang tanpa tuan. Pernah juga tersesat ke sebuah gudang para kanibal. Tempat mereka menyimpan  manusia-manusia yang siap disantap.

Tapi kematian mengancam sang ayah. Ini sepenggal dialog saat mereka membahas tentang kematian.

Aku ingin bersama papa

Tak bisa.

Kumohon.

Tak bisa. Kau harus membawa api itu.

Aku tak tahu caranya.

Kau tahu.

Apa itu nyata? Api itu?

Ya.

Di mana itu?

Kau tahu. Ada dalam dirimu. Selalu ada di sana. Aku bisa melihatnya.

Lima bintang!!!

(Buku ini disunting oleh Sapardi Djoko Damono)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s