kata-kata bersayap

Dulu saat saya ikut kelas menulis kreatif, kami diajarkan untuk mengail gagasan. Salah satunya misalnya menuliskan sebuah kata, lalu mencatat cabang-cabang pikiran yang timbul karena kata tersebut.

 

Cabang kata seringkali menerbangkan kita pada pintu-pintu kisah yang tidak pernah kita bayangkan… terkadang menelantarkan kita pada kerinduan yang terpendam…

 

Seperti saat sedang lelah berusaha menidurkan Kiela, saya tiba-tiba teringat kakak ipar. Saya pikir pasti dia 3x lipat lebih lelah dari saya karena harus mengurus 3 orang anak.

Kata kakak ipar mengingatkan saya pada Chevron, perusahaan minyak asal Amerika tempat suami kakak ipar ini bekerja.

Kata Chevron membawa pikiran saya pada Condoleza Rice menteri pertahanan Amerika Serikat, yang adalah salah satu dewan komisaris Chevron.

Kata CondoleezaRice membawa saya pada ingatan tentang perang irak, yang akhirnya menghantarkan Sadam Husein pada tiang gantungan dan berita di koran sehari sesudahnya, tentang anak-anak yang gantung dirikarena terpicu tayangan peristiwa itu.

Kata gantung diri membawa saya pada  frase warung di Pakualaman. Karena dulu saat kuliah, adik dari mbok pemilik warung makan dekat kos saya di daerah Pakualaman gantung diri di kamar mandi.

 

Sampai di Pakualaman, hujan kata langsung menyerbu…

Tentang jalan sepi yang kerap saya lewati, ibu-ibu tua yang mengambil air dari selokan, jemuran yang menghampar di rumput pinggir jalan. Gang-gang sempit yang bertabur sawo matang, nasi telor seribu limaratus, mangga matang yang berhamburan di halaman kos. Dan yang paling saya rindukan pecel di pojok gang kecil yang hanya buka selepas magrib. Rasanya hampir setiap malam saya membeli pecel disana. Sayangnya selepas pindah ke daerah Kaliurang saya tidak pernah kembali kesana. Hingga lulus kuliah, pindah ke Jakarta, ke Aceh… Saat berkunjung ke Yogya lagi pun saya belum sempat menengok kesana…. Merasakan pecel di pojok gang itu lagi…

 

(Kata lelah bisa membawa saya kesebegitu banyak kata dan tempat, mungkin karena itulah saya suka menulis. Pikiran selalu membawa saya ke banyak tempat, dengan munuliskannya, saya meninggalkan jejak untuk kembali, agar tidak tersesat di hutan pikiran…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s