Lima jam di Sabang

Aku suka detail. Karena detail adalah cerita. Dinding memiliki romansa jika di sana tergantung sebuah foto, atau terbentang segaris iringan semut. Itu sebabnya aku suka berlama-lama menghamparkan detail pada tulisan. Karena itu pula catatan berbulan lalu ini aku muat di sini. Sekedar membagi yang hilang dari artikel yang di muat di Reader Digest edisi Desember lalu. Lagipula siapa tahu menjadi inspirasi untuk berlibur. Tapi lupakan bikini dan celana super pendek. Karena dilarang!

Lima Jam di Sabang

Pertengahan Agustus saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Weh, tak ada gambaran bahwa pulau indah bersalut laut biru tenang itu pernah diusik oleh Tsunami 1,5 tahun yang lalu. Hanya sopir mobil sewaan yang kami tumpangi bercerita bahwa pantai-pantai cantik berpasir putih yang kami singgahi itu bibirnya telah mundur satu meter. Cottage-cottage mungil berpendingin udara yang bertebaran di sekitar pantai pun menjadi semakin dekat ke badan laut.

Bertolak dari Pelabuhan Ule Lhue, Banda Aceh. Tiket kelas ekonomi seharga 60 ribu rupiah untuk satu orang dewasa, membawa saya resmi menjadi penumpang Feri Pulo Rondo yang akan membawa menyeberang ke Pulau Weh. Duduk tenang dalam kapal penyebrangan bersih berpenyejuk udara ditambah buaian gelombang selama dua jam  membuat saya mengantuk.

Saya mulai terbebaskan dari rasa kantuk saat melihat Pelabuhan Balohan yang menjadi pintu keluar-masuk utama Sabang bersalut keramaian Pedagang menawarkan makanan. Kendaraan umum berjejer. Kenek berebut penumpang. Pun mobil-mobil jemputan dan juga mobil sewaan yang siap menanti penyewa berbaris di mulut keluar masuk para penumpang.

Sopir plus mobil sewaan segera kami temui. Untuk mobil berkapasitas 7 orang plus sopir dapat kita tumpangi dengan ongkos empat ratus ribu rupiah selama setengah hari. Dengan sigap sopir ini menceritakan tempat-tempat wisata yang bisa disinggahi dalam lima jam. Ada Danau Aneuk Laot dan yang paling populer hingga menjadi magnet bagi para ekspatriat yang bekerja di Aceh adalah pantai-pantai jernih untuk menyelam dan menikmati keindahan terumbu karang yang konon terbaik kedua diIndonesia setelah Bunaken. Tapi menjelang siang itu kami putuskan terlebih dahulu mengunjungi titik nol kilometer Indonesia yang terletak di desa Iboih.

Saat kami tiba, titik nol kilometer yang ditandai tugu putih beratap polycarbonat biru yang dibangun masa Pemerintahan BJ Habibie itu sedang dikunjungi beberapa rombongan anak muda dan keluarga. Saya harus bersabar menunggu pengunjung lain usai berpose. Namun tak ada kesempatan untuk bosan, karena sementara menunggu, kita bisa bersantai menatap Samudra Hindia yang membiru dari bibir tebing. Kunjungan ketempat ini bisa kita lengkapi dengan meminta pada petugas, selembar sertifikat yang menyatakan bahwa kita telah menginjak titik nol kilometer.

Lepas dari sini, dalam perjalanan membelah hutan menuju tempat lain sekawanan monyet beraksi di pinggir jalan menanti lemparan makanan. Sayangnya saya tak punya kacang untuk dilempar, hingga saya menutup kaca mobil rapat-rapat.

Ada beberapa pantai landai berpasir putih yang bisa kita sambangi kemudian, baik sekedar untuk duduk-duduk bersantai sambil makan siang ikan bakar, atau mencoba menyelam dan naik sampan. Siang itu saya hanya sebentar menyinggahi dua pantai berair jernih dengan rasa iri pada para pengunjung yang wara-wiri dengan pakaian dan peralatan selam. Sang sopir yang berperan sekaligus sebagai pemanda wisata, sudah mengingatkan agar kami tak boleh lupa waktu jika tak ingin ketinggalan feri terakhir yang akan membawa pulang jam 4 sore nanti. (Kalau tak rela segera pergi, kita bisa memikirkan untuk tinggal lebih lama lagi dengan menyewa cottage-cottage yang bertebaran di sepenjuru Sabang)

Roda mobil kami terus menggelinding di jalanan Sabang yang berbukit-bukit. Sudut-sudut Sabang tampak menggeliat dengan kembali digulirkannya status kawasan Pelabuhan Bebas. Jalan-jalan utama diperbaiki, Pelabuhan Balohan dipercantik. Namun memasuki pusat kota Sabang yang teduh dan eksotis dengan bangunan khas masa Kolonial kami dibekap sepi. Bahkan pepohonan flamboyan yang menghiasi sudut kota serasa menjatuhkan daun-daunnya dalam gerak lambat. Penduduk kota Sabang kabarnya memang terbiasa istirahat di siang hari, kemudian bekerja dan melaut pada malam hari.

Puas berkeliling, jika beruntung kita bisa mencicipi sate gurita. Namun sayangnya saat kami tiba, angin musim barat baru saja lewat. Hingga hidangan itu tidak bisa kami coba karena gurita hanya bisa ditangkap nelayan pada waktu angin musim  barat bertiup.

Kami terus melindas jalanan kota Sabang yang bersih. Sopir mobil beberapa kali menunjukan showroom mobil super mewah berbagai jenis di ceruk-ceruk kota. Sesekali mobil-mobil yang tadinya hanya kami saksikan di showroom itu berseliweran di jalanan, Bentley dan BMW diparkir di tepi jalan yang lengang. Sopir melengkapi cerita tentang betapa murahnya harga mobil-mobil itu.

Tak terasa waktu mengharuskan kami kembali di Pelabuhan Balohan untuk mengantri tiket feri yang akan membawa kami pulang. Seorang pedagang makanan khas Pia Sabang yang menyodorkan dagangannya hanya saya beri gelengan kepala saat melangkah ke ruang tunggu penumpang. Limajam yang baru lewat itu terasa seperti mimpi pendek yang  telah merenggut kami bertandang ke dalam sebuah rangkaian kartupos cantik. Apapun cerita kelam tentang Tsunami bertahun lalu, semuanya telah dibungkam oleh kecantikan Sabang yang masih alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s