pertanyaan

“Kamu nerbitin novel?”
“Iya, karena menang Sayembara.”
“Sayembara apaan?”
“Sayembara Ranesi-Grasindo.”
“Oooh!” Dan beberapa dari mereka manggut-manggut Beberapa bertanya tentang cover, tentang isi, yang lainnya melontarkan kalimat-kalimat, “Wah ternyata, kamu bisa menulis novel juga ya….” Seolah-olah pada satu malam yang tak ada pertanda apapun aku kejatuhan “bakat” menulis. (Tapi tentu saja kalimat ini tidak keluar dari orang-orang yang bertahun-tahun merasakan sabar, saat kutodong dengan tulisan-tulisanku sebelum Rumah Tumbuh… Aik tentu saja, juga teman-teman sekolahku, beberapa teman seangkatanku di jurusan Arsitektur UGM, dan pada setahun terakhir ini, mas Sulak dan kawan-kawan di Jakschool)

Tulisan ini dibuat sekedar meluruskan; menjawab pertanyaan; bahkan menanggapi makian beberapa orang baik yang telah memberikan feed back dan tiba-tiba melihat bahwa aku telah ada di bagian ini. “Kok bisa?”

Bulan Juli 2005, saat aku pertama kali melihat iklan Indonesian Literature Competition , Sayembara Mengarang Novel Remaja, pada harian Kompas. Saat itu aku baru melepaskan diri dari dunia Alexandra (novel), dan baru mencoret-coret penggalan-penggalan paragraraf yang akhirnya aku teruskan menjadi novel Rumah Tumbuh.
Batas akhir pengumpulan novel untuk sayembara Grasindo-Ranesi pada pertengahan September, memaksaku menyelesaikan ‘dengan paksa’ Rumah Tumbuh, dan berhasil menghadirkannya dalam lembaran printout 3 hari sebelum batas akhir. Satu hari sesudahnya aku berburu tempat fotokopi yang masih buka pada hari minggu, dan menemukannya di belakang mall ambassador, di samping rumah makan padang. Hari selanjutnya aku mengirimkannya dan berharap kiriman itu tidak terlambat sampai di redaksi Grasindo.

Akhirnya setelah pengumuman tertunda pada bulan Oktober, pada bulan November aku melihat sebaris namaku di samping judul Rumah Tumbuh, pada urutan keempat dalam daftar sepuluh finalis Sayembara Grasindo-Ranesi.
Kabarnya, sepuluh judul naskah yang tercantum dalam daftar itu telah bertempur dengan 611 naskah lainnya (total 621) yang telah diputuskan oleh dewan juri Riris.K.Toha.Sarumpaet, Maman S.Mahayana, dan Veven SP Wardhana.

Selanjutnya, pagi tanggal 15 Desember itu, setelah sarapan di Marunda Restaurant, hotel Santika (dimana aku hanya sempat makan satu croissant karena datang terlambat, dengan sisa-sisa sembab, setelah menangisi data hardiskku yang tidak bisa diselamatkan… Semua gara-gara virus sialan yang dititipkan seorang teman!), semua finalis segera berkumpul di manggala wanabakti, mendengarkan sambutan-sambutan dari pihak Radio Netherland, Kelompok Kompas Gramedia, menikmati suguhan puisi.

Dan… I found my self, get the first prize!

Kenapa aku? Entahlah! Semua lomba memang selalu mengundang kontroversi bukan? Tapi selama aku masih bisa berkarya dan menikmati hasil kerja kerasku saat menghasilkan sebuah karya… There’s nothing I can ask more…. Thank’s God!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s