Senyum yang Bersinar

Aku terpejam. Tapi aku tahu seberapa panjang rambut-rambut yang menggantung di dagumu, kuap yang kau lepas ketika duduk di samping pembaringanku, atau jernih air yang tak kau bendung dari sudut matamu.
Seperti hari kemarin. Kau menggenggam jemariku, seolah ia akan terbang dan tak teraih. Hangatkah jemarimu hari ini? Syaraf-syaraf di ujung jemariku semakin malas mengirim sinyal-sinyal ke neuron di kepalaku, hingga aku semakin berjarak denganmu.
Kemarin masih kurasakan lembut kecup bibirmu di punggung tanganku, dan sebulir air yang pecah di kulit ariku. Tapi hari ini sinyal-sinyal itu semakin lamban, menyurut, lalu diam. Lirih desahmu seperti gema yang terlambat, dan mengacaukan pendengaranku. Apakah hari ini seperti kemarin ketika berulang kau ucapkan “Aku membutuhkanmu!”? Apakah seperti kemarin kau bisikkan “Maafkan aku”?
Kau disini mendekapku, menjalarkan geletar tubuhmu, namun aku merindukan hangatmu. Sentuhanmu tak menyisakan apa-apa. Bahkan mungkin jika kau memukul dan menendangku, sekelebat lembut pun tak lagi kurasakan.
Seperti aku yang rindu, kurasa kau juga rindu.
Berapa lama itu sayang? Sudah genap lima tahun kah?
¯ ¯ ¯
Dalam lukisan kita. Ia akan datang seperti hujan, meruapkan wangi yang tertelan sekian lama oleh tanah kerontang di ujung kemarau. Lalu kau dan aku dipagut aroma mimpi yang pernah membanjiri kita pada awal perjumpaan. Tentang senyum-senyum yang bersinar. Tentang gelak yang membuncah. Tentang puisi-puisi yang hidup. Tentang nafas kita yang terus berhembus. Tentang darah kita yang akan terus mengalir di tubuhnya. Kehadirannya akan menjadi peta kita sendiri. Cantikkah?
Lalu kita kerap bercakap tentang sesuatu yang pertama yang akan kita ajarkan kepada anak-anak yang sebagian darimu dan dariku kelak. Apakah Tuhan tempat pertanyaan dan jawaban akan asal dan akhir dilontarkan; cinta tempat ia disemai dan dibuai, ataukah tentang ayah ibunya yang tersuruk menghampiri pohon sejarah tentang manusia-manusia yang terlahir begitu saja, pergi sekedar sebagai pengantar manusia-manusia baru, menjadi sebab. Menjadikan yang sebelumnya puing-puing, lalu menjadi debu. Tapi kita bersepakat untuk mengajarinya tentang cahaya. Agar ia tahu menyalakan kita yang akan padam.
Kita membuat rencana-rencana, siapakah kelak yang akan menjadi empu agar anak-anak kita menjadi emas atau perunggu atau batu. Lalu kita bergulat dengan pikiran sendiri. Apakah emas lahir dari perunggu, ataukah batu berasal dari debu?
Semakin bercakap, kita tahu akan segera menyerah pada kesepakatan tentang mencari jawaban, sampai kita tak butuh lagi bersenda dengan pertanyaan.
Siang itu kau pergi dengan pertanyaan tentang manusia-manusia, dan aku termenung dengan pertanyaan tentang cara-cara menyusun debu menjadi batu, menempa perunggu menjadi emas. Dan waktu mengantarkan kita untuk mengetahui, bahwa kita telah menjadi bagian dari garis sejarah itu ditorehkan. Kau telah menjadi laki-laki dan aku perempuan. Seperti kisah klasik pertempuran sperma menjelang gua permenungan ovum. Laki-laki menerabas peperangan dalam langkahnya dan perempuan bermenung mendengarkan detak jantungnya.
Kemudian aku lalui waktu dengan menikmati rinai hujan yang memercikiku. Menunggu suaramu dalam lirih angin yang mengisi ruang-ruang yang kau tinggalkan. Bermenung di beranda tempat kita akan mendongeng tentang angin, awan dan hujan pada anak-anak kita kelak.
Seperti percakapan dibawah selimut malam. Kita kerap bergurau tentang siapa yang akan datang pada pagi berikut. Apakah aku lupa meramal wajahmu akan menyembul pada hariku yang sesak dengan dering telepon dan tirai post it pada wajah monitorku?
Siang itu kau kembali dengan garis senyum yang disarati pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak dari saat terakhir kita gelar dalam perjamuan kita. Semakin jauh kakimu melangkah, semakin pertanyaan itu bertubi-tubi datang menghujan. Lalu katamu kau kembali untuk menjemput jawaban dari satu pertanyaan yang paling tua dalam perjalanmu. Kita sepakat hanya jika bersisian kita bisa menatap pertanyaan-pertanyaan itu seolah-olah kita telah tahu jawabannya.
Pfuih!!! Kita telah menapaki anak tangga yang pertama. Menanggalkan semua ketakutan kita atas perhitungan-perhitungan. Perhitungan matematis yang menelisik kita dengan pandangan orang-orang yang menghitung jumlah dunia sebanyak jari di tubuh mereka. Menempatkanmu di jempol dan aku di kelingking. Leluconkah? Lalu perhitungan biologis dari orang-orang asing yang menafsir semuanya hanya dari rangkaian denyut yang mengaliri tubuh kita. Katanya kita harus mengecilkan mimpi kita. Kekasihku, banyak sekali orang-orang di luar kita yang mengatur mimpi milik yang lain. Menanamkan kekuasaannya pada orang-orang seperti kita. Tapi kita sepakat untuk sinting dan waras bersama-sama. Tak perduli dengan perhitungan di luar kita. Heh, kita bahagia kan sayang?
Lalu seperti telah kita sepakati, aku akan mengawasi kedatangannya dan kau memunguti pernik-pernik sederhana yang mungkin akan menjadi jawaban dari pertanyaan yang telah kita tunggu.
Entah dititik mana, benih-benih itu turun, tumbuh dengan semai tetes peluh dan air mata. Begitu saja ia mulai merayap memagut kaki kita. Membelit langkah kita. Mengunci mimpi-mimpi kita. Lalu aku mulai sangsi. Adakah jawaban di ujung lorong yang kian menghimpit ini. Terkadang ada arus yang seakan menyeretku untuk terus tenggelam pada kelam. Apakah harus berbalik arah, atau terus bersetia pada jalan yang telah kita pilih?
Mungkin terkadang kita butuh perhitungan-perhitungan. Dan perhitunganku menimbang bahwa semua ini terlalu larut untuk sebuah jawaban. Mungkin tak lagi butuh jawaban. Maka justru bukan lagi jawaban, tetapi pertanyaan yang terus membuat kita hidup.
“Aku lelah”, ucapmu.
Apakah aku telah menyurutkanmu?
Waktu memangku kita menjelajahi semua kemungkinan, lalu ia melabuhkan kita pada pusaran yang mengaduk-aduk kita… sebagai empu… agar kita tahu nafas hidup. Lalu kita mulai mencari dari hal yang sederhana saja. Pada danau tempat kita kerap menepi dari keriuhan suara-suara sumbang.
Apakah saat itu kau sangsi dan tak percaya lagi pada mimpi?
Saatnya sampai ketika pertimbangan-pertimbangan menghantarkan kita pada pilihan. Aku memasuki guaku semakin dalam. Meninggalkan kerja-kerja yang memperberat beban kita. Menyiapkan kedatangannya. Mungkin ia adalah anak manja yang harus dirayu dengan sambutan hangat dan bahagia. Bukan sekadar menggantang kemungkinan pada malam-malam kita yang lelah dengan belaian cinta sambil lalu.
Hari kesembilanratus sejak kita bersama, dan aku masih bersetia pada garis senyum yang terus menggelembung dalam mimpi-mimpi kita. Ah, aku begitu merindukan detak jantungnya pada detak jarum jam yang termangu sedih di atas nakas samping tempat tidur kita. Mungkin jam itu pun telah rindu menjerit dan tergelak saat pagi-pagi aku menghardiknya dengan wajah kumal sebelum melompat untuk menadah bulir-bulir es di bawah pancuran kamar mandi lalu meninggalkannya begitu saja, menyambangi setumpukan kertas dan radiasi monitor, sampai aku kembali membiarkan selimut menelan tubuhku dan terlonjak keesokan harinya saat aku dipagut mimpi tentang senyum-senyum yang bersinar.
Sudah berapa waktu kah saat aku mengeluh padamu aku lelah untuk berdiam diri dan ingin merobek selembar kertas yang membuatku hanya mendekam di rumah kita. Tapi kau terus saja menghujaniku dengan harapan. Menaburkan renik-renik mimpi untuk kita rangkai bersama-sama. Aku menghidupi lukisan senyum yang semakin membelit langkahku itu.
Lalu aku mulai mengisi waktu dengan bercengkrama dengan kawan-kawan lama. Menemukan karib-karib baru. Kapankah itu? Ketika kawan-kawan mulai menelisikkan kata-kata sangsi padaku. Saat itu aku hanya tahu, jiwa kita telah berpagut selamanya. Maka aku percaya padamu. Seperti aku percaya akan sekian liter udara yang kuhirup dan menyelusup ke dalam rongga paru-paruku. Mengalirkan aroma hidup ke dalam denyut nadiku.
¯ ¯ ¯
Jarum penunjuk waktu di dinding terus berdetak melaju. Pelan kau tepuk pipiku. Aku diam. Kau cengkramkan tangan ke bahuku. Aku diam. Kau memburu nafas. Matamu nyalang. Kau guncang onggokan jasadku. Aku tetap diam.
“Bangun! Buka matamu!” Kau memekik, menghamburkan bulir-bulir air ke sekujur jasadku yang setia pada kebekuan.
Maafkan sayangku. Telah lewat waktu, ketika kata-katamu menjadi sabda, mendorong segenap neuron di otakku bekerja sempurna. “Tunggu aku!” ucapmu, lalu aku menunggumu dengan kesetiaan tak bersyarat. “Bersabarlah!” ucapmu, lalu aku menjadi sesabar gurun sahara yang terus berkilauan dan melepuh dihujani terik. Aku tak hirau bisikan karibku tentangmu, mencoreng lukisan tentang senyum-senyum yang bersinar pada perempuan lain, serupa seperti milik kita.
Hingga saat senja bersemu merah, aku mengintip dari balik kemudi. Kau menyisipkan anak rambut perempuan berjaket biru, yang digoda angin di sudut taman. Lalu kau mengecup sosok dengan ujung rambut yang menyentuh jemarimu di punggungnya itu. Tanganmu yang lain mengelus perutnya yang menggelembung. Disanakah kau telah menciptakan mimpi kita?
Maafkan aku sayang… Aku tak bisa membendung baja panas yang mencair, menggelegak, kemudian mengalir di sekujur nadiku. Begitu saja ia menggantikan aroma hidup dengan aroma kosong yang menarikku dalam. Ada sebuah lubang hitam yang luar biasa besar, menyeret sum-sum tulangku pada kelam.
“Kau satu-satunya tempat aku menitipkan mimpiku!” jawabmu ketika kulempar tanya.
Kau menitipkan mimpimu padaku, tapi kau menciptakannya dengan siapakah? Ah, mengapa kau tak mengatakannya padaku sayang?
“Mimpi kita hanya milik kita…” Kau merengkuhku yang melorot ke ujung kakimu.
“Jangan begini, tenanglah!”
Baiklah sayang. Segala prasangka yang telah tumbuh itu telah menguap. Aku tak lagi sakit. Tak lagi perih. Tak lagi rindu dengan senyum-senyum itu. Aku tak lagi bermimpi. Aku akan tenang. Lebih tenang dari batu karang.
Segenap divisi neuron di kepalaku telah menolak rekaman sinyal yang disampaikan syaraf optik. Sabdamu berabstraksi sebagai anestesi, mematikan sinyal semua syaraf sensoris di tubuhku. Yah, aku percaya. Aku satu-satunya. Mimpi itu satu-satunya. Senyum itu akan dibuai di rahim satu-satunya. Aku adalah satu-satunya tempat kau menyemai mimpi itu.
Jasadku telah menepis radarnya sendiri sayang. Apakah tubuh ini, jika sudah tak dimiliki jiwa yang bersemayam di dalamnya?
Denging ambulan itu menjemputku.
Maka di sini aku diam. Sekali ini aku meminta sayang. Ijinkan aku hanya milikku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s