Pasar Gembrong, JT.21

Ini cerita pengalaman survei untuk kerjaanku . Lokasi yang aku ulas ini dikenal dengan pasar Gembrong dan ada beberapa sebutan lagi, yang jelas dalam SK.Gubernur no 2561 tahun 2004 ia terdaftar sebagai lokasi PKL resmi dengan kode JT.21.

Siang hari bulan Mei itu panas menyengat, namun aktivitas di JT.21 ini begitu hiruk pikuk. Selain karena lokasinya memang di tepi jalan Arteri Casablanca, aktivitas juga hidup oleh para pekerja kios yang membongkar muat komoditas mainan di tepi jalan. Para pemulung yang mengumpulkan kardus bekas kemasan mainan, dan tentu saja para pembeli.
Setelah melewati kios-kios kecil di atas trotoar yang di gantungi mainan berwarna-warni, aku masuk ke dalam gang yang masih diapit aneka mainan, hiasan rambut, buku-buku dan alat tulis. Seorang perempuan yang kutemui menunjukkan kios sekaligus rumah milik seorang bapak yang menjadi awal tumbuhnya kawasan ini sebagai sentra mainan super murah.
Pak Baharudin dulunya adalah seorang pegawai di Dinas kebersihan dan menjadi Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari keprihatinan melihat warganya di sekitar pasar Gembrong ini yang di penuhi penggangguran yang cenderung pada kegiatan yang mengganggu ketentraman. Sebagian lain masyarakatnya hidup dengan tingkat kesejahteraan minim.

Pak  Baharudin  berinisiatif membentuk sebuah kelompok usaha bersama dengan nama UGRS. Mereka mengumpulkan dana dari warga yang kemudian dipinjamkan pada para warga kelas bawah dan pengangguran untuk berusaha.

Kegiatan ini sempat babak belur karena banyak yang akhirnya tidak sanggup membayar dan merugi. Dalam keadaan kacau balau pak Baharudin juga terjun sendiri pada kegiatan usaha ini. Pada saat awal krismon adalah saat terberat karena banyak orang-orang yang diberi pinjaman tidak sanggup mengembalikan pinjaman, dan beralih profesi menjadi TKI ke luar negeri. Pak Baharuddin harus menanggung kerugian dari dana yang tak kembali itu, dan tetap bersetia di tempatnya.

Sampai saat ini walaupun banyak orang-orang binaannya yang sudah meninggal dunia, ia masih memiliki orang-orang binaan yang diberi modal secara kredit maupun pengambilan barang secara indent.

Dengan memiliki akses langsung pada Importer, ia juga berperan sebagai distributor untuk memasok barang ke daerah di luar Jakarta.

Omzet usahanya saat ini mencapai 600jt/ bulan.
Saat ini tidak semua pedagang yang ada di pasar ini berasal dari binaan pak Baharuddin. Beberapa tetangganya ikut memulai usaha yang sama.

Seorang tetangga yang rumahnya persis di samping rumah pak Baharuddin, dulunya membuka warung nasi lalu beralih pada mainan anak, saat ini omzet kiosnya rata-rata 5juta/hari, dan setiap dua hari sekali ia harus membelanjakan 2jt untuk pasokan barang-barang di kiosnya.

Sesuatu yang menarik halaman di depan rumah para pemilik rumah asli ini kemudian di sewakan kepada pedagang-pedagang lebih kecil untuk membuka kios yang akhirnya terus merangsek sampai ke trotoar dan membangun kios permanen.

(btw.di salah satu kios kecil aku sempat beli asesoris rambut segepok yang kalo di toko resmi apalagi di mall harganya mencapai 30 kali lipat!)

Melihat omzet yang begitu besar, kebanggan seorang bapak yang berhasil menguliahkan anaknya, berulang kali naik Haji dan memiliki banyak rumah tinggal, maka usaha PKL ini memang cenderung bergerak mapan dalam posisi fisiknya yang “informal”.

Sesungguhnya ketika melihat kenyataan ini aku jadi galau. Beginilah potret manusia-manusia Indonesia pada umumnya.

Orang-orang besar mencaplok tanah-tanah rakyat, orang-orang kecil mencaplok ruang publik (dalam konteks ini trotoar), pejabat pemerintah sendiri menadah uang-uang rakyat.

Dalam dunia beginilah kita hidup. Sebuah lingkaran yang terus berputar.

Lalu dimana posisi kita yang hanya ingin meraih kenikmatan sederhana dari jerih payah dan tetes peluh kita.

Masih adakah tempat?

Nb. Pembangunan jalan Ateri casablanca sempat menggusur rumah pak Baharuddin yang dulu berada di seberang rumahnya yang sekarang.

Sesungguhnya siapa yang salah? Pembangunan jalan yang membelah kampung, atau aktivitas ekonomi pasar Gemberong yang seakan tidak terdeteksi bahwa akan mengalami ekstensi sampai ke jalan arteri? Sebagian orang berpikir gampang bahwa okupasi trotoar yang menghalangi akses pejalan kaki memang harus di babat.

(Aku pernah baca tentang hak pejalan kaki di Indonesia memang minim sekali…)

(Hal-hal seperti inilah salah satunya yang membuatku kerap ingin melarikan diri dari depan komputerku… Atau berharap tiba-tiba kursiku berubah menjadi tanaman karnivora yang menelanku hidup-hidup… ^_^ Life is never easy… )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s