Gie

Aku tadi siang akhirnya nonton Gie…

Satu yang paling berkesan adalah endingnya yang  memancing emosi.

Saat teman Gie menyampaikan kabar tentang musibah di gunung Slamet dan mengantarkan surat untuk cewek itu (diperankan Sita RSD) dan dia menangis, lalu ada backsound suara Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Aku lega “di filem” ini akhirnya Gie memilih.

Lalu sesuatu yang terus berdengung-dengung di kepalaku adalah kata-katan Gie (dalam background suara) bahwa orang yang paling beruntung adalah orang yang tidak pernah dilahirkan, orang yang kedua adalah orang yang mati muda, dan yang paling sial adalah orang yang berumur panjang

Sejujurnya aku merasa marah, dan protes dengan kalimat itu. Walau dalam kelebat pikiran lain aku juga hampir setuju. Yang jelas bukan masalah umur panjang atau pendek, tapi bagaimana kita memaknai perjalanan umur kita tersebut.

Aku bukanlah orang yang tertarik soal politik, dan filem Gie sarat nuansa politis yang menjadi konteks ceritanya. Kurasa aku tidak tertarik politik karena tidak ada kemanusiaan di dalamnya. Tapi  orang lain mungkin akan menangkap massage tersendiri yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri.  Entah…

Satu hal mengutip dari pengantar Catatan Seorang Demonstran.

Apa yang Gie bilang mungkin tidak semuanya benar dan orang setuju. Tapi yang penting adalah kejujurannya.

Seringkali orang enggan bersikap jujur, dan pada akhirnya menghilangkan dirinya sendiri.

Benar atau salah itu bisa dikoreksi yang penting dengan kejujuran kita bersikap terbuka untuk berani menghadapi apapun (kesalahan atau kebenaran) dari diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s