LIFE BEGINS AT 8.PM

Jam tangan Sisa hujan masih berderai di udara malam n for me life begins at 8 pm.

Aku lagi kepingin berat nonton Gie, gara-gara beberapa kali dalam rentang waktu yang cukup lama baca di koran tentang filem itu.

Tadi siang dikantor aku baca Kompas halaman Muda yang nulis tentang Gie, dan memuat kutipan catatan-catatannya yang sederhana.

Aku jadi merasa apa yang dia pikir juga sering aku pikir, hanya aku enggak pernah menulis tentang itu, biasanya hanya ngomong dengan diri sendiri, atau ngirim sms dengan aik  (sebelum bertemu aik akhir 2001, aku enggak pernah mengungkapkan apa yang benar-benar aku pikirkan dengan orang lain, waktu itu aku orang yang paling enggak punya sikap!).

Mungkin banyak juga orang-orang yang berpikiran sama, tapi sama sepertiku, tidak pernah menuliskannya.

Menulis adalah senjata kita yang paling primitif untuk berani menunjukan ‘ini yang gue pikirin!’ Seringkali kita hanya berani berpikir tanpa pernah berani mengungkapkannya, karena kita takut atas persepsi, bahkan kita takut menuliskannya hanya untuk diri kita sendiri.

Berani menuliskan pikiran kita adalah satu langkah untuk berani membuktikan bahwa kita ADA!

Gie dijadikan simbol. Che Guevara dijadikan simbol. Kenapa?

Tentu saja setelah MENJADI DIRI mereka, tulisan sudah tak muat lagi menampung segala gelisah. Dan mereka bergerak untuk melakukan perubahan.

What i learn from them:  (Pikiran dan) Tulisan bisa menjadi awal dari gerakan.

Besok aku janjian sama Jun untuk nonton GIE… pasti akan ada pikiran baru lagi setelahnya… dan mungkin juga jika aku sudah benar-benar membaca buku Catatan Seorang Demonstran.

Oh ya,  (untuk membuat tulisan ini tidak melulu ulasan filem dan pertunjukan… ^_^ )

Tadi pulang kerja di tengah hujan deras, dalam angkot yang sesak, seorang ibu-ibu mirip ibunya Marcella Zalianti, memarahi anak lelakinya yang baru kelas 3 SD. Karena (mungkin) anaknya itu maksa untuk datang latihan kesenian hari ini.

Sepanjang jalan si ibu  ngomel-ngomel nyalahin anaknya karena sudah membuat ibunya kesal berdesakan di angkot dalam jalanan Jakarta yang selalu macet.

“Mending lu sekalian aja bunuh gue, kalau begini!”

Anaknya diam, pada saat ibunya meletup-letup. Akhirnya ia mewek dalam senyap, sambil berbisik “Nggak usah!”

Lalu ketika ibunya masih setia dengan omelannya yang terus berulang dan berbunga, anaknya menjerit.  “Nggak usah!”

Aku berkali-kali melirik anak itu.  Dalam pikiranku yang menjelma menjadi seorang ibu yang memiliki anak sepertinya, aku pasti akan menemaninya menikmati apa saja. Bahkan (mungkin) buah kebandelan si anak karena enggak mendengar saran ibunya untuk enggak usah ikut latihan kesenian hari itu, sehingga mereka terjebak dalam angkot pengap, terkepung guyuran hujan lebat.

“Pelajaran”nya mungkin akan lebih efektif dibandingkan si ibu mengomel sepanjang jalan dan melukai harga diri anak itu di depan umum. (Jadi ini janji, aku akan menjadi teman bagi anakku kelak…)

Sesampainya di kost aku sms Aik bahwa aku berempati dengan anak itu, karena jadi teringat rasa sebalku ketika Aik ngomel-ngomel pas mengantarkan aku ke mall. (Kalau enggak dianterin aku yang ngambek, kalau nganterin Aik ngomel! Kurasa Aik lebih suka ngomel-ngomel daripada lihat aku ngambek!) Trus Aik bilang, “Jangan disamain! Anaknya itu mau latihan kesenian, dan Fa mau ke mall, Itu beda!” Dan aku langsung terbahak, entah karena kesewotan Aik, atau menertawakan diri sendiri karena hal itu benar!

Keyword for today… diri, dan menjadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s