UNGU VIOLET

Filem Ungu Violet

Nonton Ungu Violet dengan mbak Intan, sebagai penutup siang.

Sejak jam sepuluh pagi menjenaki tumplekan buku di Istora senayan.  (Enggak tau, kenapa selalu berakhir dengan kaki sakit dan badan pegel. Akhirnya jam setengah tiga tidak konsentrasi lagi melihat-lihat)

Maka Ungu Violet menjadi penutup yang menyenangkan dimana kita bisa duduk selama dua jam dan menikmati Kwetiau Seafood dari restoran Mangkok Putih yang kita selundupkan di dalam tas.  (Ampun!  Entah bagaimana aromanya sampai kerongga hidung orang yang duduk di sampingku) Aku  sadar asap dari kwetiau panas itu mengepul dalam ruang gelap, dan aku menikmatinya dengan sekedar aroma, suara (kriuk-kriuk mungkin batang sayuran) dan rasanya(asam manis), karena gelap.

I just realize, kenikmatan sempurna dalam “the art of eat” haruslah ada rupa, rasa, aroma dan suara. Makan makanan dalam gelap seperti itu membuat selera berkurang 50 % (data tdk dpt dipertanggung jawabkan secara ilmiah, maybe next time I’ll find it out)

Tentang ungu violet sendiri.  Entah karena diawal nonton konsentrasiku terbagi pada kegiatan mengunyah atau memang kurang berkesan, opening terasa biasa.

Well at least adegan berteriak dalam coffin membuatku mengernyit untuk menunggu jawaban what’s next.

Kemudian, cerita mulai terasa enggak logis. Seorang penjaga ticket busway menjadi artis ngetop yang fotonya dipasang di billboard gede.  Aku pikir masa sih secepat itu?

Sekarang ini adalah 2 July 2005. Kalo mau dipake the story on screen terjadi sekarang, busway beroperasi februari 2004… It means ‘dia’ punya waktu dari gak sengaja difoto sampe ngetop maksimal 16 bulan.  Setahuku model-model tidak terbang menjadi bintang seperti dilemparkan begitu saja kelangit.

Okey mungkin ada beberapa pengecualian… But what make her that bright as a star so fast, padahal sosoknya sendiri digambarkan tidak terlalu istimewa atau proses itu tidak tereksplorasi secara maksimal, or mungkin efektivitas pita seluloid memang tidak memungkinkan tereksplorasi selengkap itu (?)

Yah it’s a good movie but i think AADC is better..  hehe

Hey, aku bukan pengkritik filem professional, hanya orang biasa yang tertarik nonton karena nama Jujur Prananto sebagai penulis skenario.

Aku pernah baca cerpennya yang cukup menarik, dan berharap menonton filem yang skenarionya ditulis olehnya mengundang kesan yang sama ketika aku membaca cerpennya, ternyata enggak begitu berhasil…

Well filem adalah sebuah karya keroyokan, setiap personal boleh memiliki keunggulan masing-masing tapi jika tidak ngeblend dengan pas, tentulah masih ada lubang-lubang kecil yang akan mengganggu…

I think key word for today is rupa, rasa, aroma, suara dan “ngeblend”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s